« »
Tampilkan postingan dengan label BERITA EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2011

Kenapa Indonesia akan menjadi the Next Economic Superpower?

Bunyi terompet kematian yang menandai robohnya ekonomi negara-negara Eropa sayup-sayup mulai terdengar. Perekonomian negara-negara utama seperti Perancis, Italia, Spanyol dan Yunani sedang dirawat di UGD. Sementara raksasa ekonomi lainnya, Amerika Serikat, telah lama termehek-mehek dalam kegelapan ekonomi yang tanpa ujung.
Sementara di belahan dunia lain, yang dipisahkan oleh samudera Atlantik dan Pasifik, muncul kekuatan ekonomi baru yang terus tumbuh. Belahan dunia lain itu bernama benua Asia. Inilah sebuah benua, dimana kegemilangan masa depan ekonomi dunia tengah diracik dan dibentangkan.
Dan senyampang dengan itu, dengan gagah berani muncul barisan the Next Economic Superpowers : China, India, South Korea, dan tentu saja sebuah negeri indah yang bernama : Indonesia.
Salah satu tanda kebesaran ekonomi sebuah bangsa, selalu dilihat dari size PDB-nya atau produk domestik bruto (atau GDP/Gross Domestic Product). Dalam bahasa kampung, PDB merupakan total output/produksi yang dihasilkan oleh sebuah negara : mulai dari produksi sepatu oleh pengrajin Cibaduyut hingga hasil minyak Pertamina; mulai dari produksi mie tek-tek di pinggir pasar Glodok hingga produksi kelapa sawit di perkebunan maha luas milik Astra Agro Lestari.
Pendeknya, PDB ibarat volume produksi bagi para juragan pabrik. Makin besar, makin bagus. Dan negeri kita, karena jumlah penduduknya yang amat banyak serta area Nusantara yang maha luas (lebih panjang dibanding negara Amerika), termasuk negara dengan PDB yang relatif besar yakni : 6,000 trilyun rupiah (atau berada pada posisi 18 terbesar di dunia).
Nah, angka PDB itu juga yang dijadikan dasar untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Jadi, kalau di koran-koran kita dengar ekonomi Indonesia akan tumbuh 6 %, maka patokannya adalah : angka PDB yang besarnya sudah Rp 6,000 trilyun akan tumbuh 6 % (atau tumbuh sebesar Rp 360 trilyun rupiah). Angka pertumbuhan 6 % tergolong bagus (Eropa dan Amerika hanya bisa tumbuh 1,5%; jadi kita bisa tumbuh 4 kali lipat dibanding mereka !!).
Dengan basis angka PDB yang sudah cukup besar, dan didukung dengan angka pertumbuhan yang meyakinkan (yakni antara 6 – 7%), Indonesia PASTI akan menjadi raksasa ekonomi di masa depan (sayangnya, media massa kita jarang menampilkan hal ini. Justru media internasional yang berkali-kali membahas masa depan gemilang ekonomi Indonesia).
Yang mungkin juga layak dicatat adalah ini : jumlah size PDB yang 6000 triyun itu, mayoritasnya (sekitar 63%) di sumbang oleh konsumsi domestik. Atau oleh belanja konsumen domestik, atau ya oleh kita-kita ini : mulai dari membeli Blackberry Bold 9900 baru di pasar Roxi hingga ambil Vario gres di dealer motor; mulai dari jalan-jalan sambil makang siang di Mall hingga beli baju modis di Bandung.
Konsumen Indonesia memang amat powerful. Itulah kenapa seorang haji yang juga juragan sukses pernah bilang : cari uang di Indonesia itu amat gampang; uang ratusan milyar bercereran di jalan dan di pasar; kita tinggal mengambilnya semudah mengorek upil.
Maksud sang juragan itu jelas : peluang bisnis dan prospek pasar di negeri ini sedemikian menggiurkan, dan inilah kesempatan emas bagi siapa saja untuk menjalankan bisnis (kalau ndak percaya tanya Toyota dan Nestle kenapa mereka mau bikin pabrik baru di Cikarang, masing-masing senilai 2 trilyun). So, just build your own busines, and do it NOW.
Elemen lain yang juga akan membuat Indonesia menjadi superpower ekonomi adalah ini : bonus demografi. Ini istilah yang lazim digunakan untuk menyebut sebuah negara yang punya komposisi penduduk yang produktif. Indonesia termasuk disitu : dari 235 juta penduduk kita, mayoritas berada pada usia produktif (atau antara 17 sd 50 tahun). Dan ini akan memberi efek dahsyat bagi kemajuan ekonomi.
Negara-negara maju, termasuk Jepang, sebaliknya. Mayoritas penduduk mereka berada pada usia lanjut (dan tidak produktif). Sebutannya : negara yang menua, atau an aging nation. Dan ini malapetaka buat ekonomi bangsa. Jepang dan negera maju lainnya, pelan-pelan bisa hancur, sejalan dengan penduduknya yang jompo semua.
Demikianlah beberapa catatan yang layak diperhatikan, kala kita punya impian untuk menjadikan Sang Bumi Nusantara menjadi the Next Economic Superpower.
Negeri ini pernah mengalami kejayaan yang amat impresif, ketika dipimpin oleh seorang perdana menteri bernama Gajah Mada. Kedahsyatan negeri Majapahit yang dipahat 900 tahun silam itu insya Allah akan terulang kembali.
 
Photo credit by : gbatistini@ flickr.com

Sabtu, 08 Oktober 2011

Downgrade Asing, IHSG Terkoreksi


Akhir pekan, IHSG gagal mempertahankan posisi di zona hijau. Membaiknya bursa regional dan penguatan saham ASII, tidak mampu menahan aksi ambil untung investor.  
Pada perdagangan Jumat (7/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 17,422 poin (0,51%) ke level 3.425,684, dengan intraday terendah di 3.418,13 dan tertinggi di 3.526,80. Demikian pula indeks saham unggulam LQ 45 yang turun 3,398 poin (0,57%) ke level 600,231.
Indeks di awal perdagangan menguat, dengan dibuka naik 1,06% ke level 3.479,76. Setelah menyentuh level tertinggi di 3.526, indeks mulai tertekan hingga pada sesi pertama bertengger di angka 3.508 dan akhirnya ditutup negatif di level 3.425.
Satrio Utomo dari Universal Broker Indonesia mengatakan, koreksi bursa akhir pekan ini disebabkan adanya downgrade salah satu sekuritas asing, yang menilai IHSG terlalu mahal. Namun, ia melihat hal ini masih wajar, karena ketika semua bursa regional turun, IHSG masih bertahan di zona positif. “Kalau IHSG mahal, dalam hal P/E nya, ya memang wajar,” katanya.
Namun, posisi net buy asing yang terus meningkat hingga ke Rp381 miliar sore ini, membuatnya curiga.
Pasalnya, dengan posisi jangka pendek asing yang relatif masih minim, hanya di bawah 5 triliun, jauh dari level tertinginya di 18 triliun, asing ada kemungkinan melakukan downgrade karena tidak punya barang. “Mereka mau belanja, makanya downgrade dulu, biar kita jualan, mereka yang nampung,” paparnya.
Apalagi sore ini, bursa Asia menguat ditopang optimisme kondisi Eropa, yakni pernyataan Bank Sentral Eropa yang akan terus melakukan pembelian obligasi dan memberikan pinjaman dengan tenor panjang untuk merekapitalisasi bank-bank di Eropa.
Indeks Nikkei 225 terpantau menguat 83,60 poin (0,98%) ke level 8.605,62, indeks Hang Seng naik 534,73 poin (3,11%) ke level 17.707,01, indeks Straits Times naik 44,84 poin (1,72%) ke level 2.647,96 dan indeks Kospi di Korsel naik 49,45 poin (2,89%) ke level 1.759,77.
Bursa AS juga semalam melanjutkan reli dalam 3 hari, terakhir seiring rilis data initial jobless claims yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Demikian juga harga komoditas dunia yang turut melanjutkan reli dengan naik 3,6% ke level US$82.6/barel.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia didukung volume transaksi sebesar 5,167 miliar lembar saham, senilai Rp 4,557 triliun dan frekuensi 150.026 kali. Sebanyak 72 saham naik, sisanya 155 saham turun, dan 75 saham stagnan.
Koreksi indeks terjadi, di tengah aliran dana asing yang masuk. Asing mencatatkan nilai transaksi beli bersih (net foreign buy) sebesar Rp381 miliar. Rinciannya adalah transaksi beli sebesar Rp1,785 triliun dan transaksi jual mencapai Rp1,404 triliun.
Beberapa emiten yang melemah antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 1.650 ke Rp 8.550, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 37.600, Century Textille (CNTX) turun Rp 700 ke Rp 6.900, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 550 ke Rp 17.100.                                               
Penguatan saham Astra Internasional (ASII) yang naik Rp 2.550 ke Rp 63.250 tidak mampu menghalangi koreksi bursa. Sedangkan emiten-emiten lain yang menguat adalah Dian Swastatika (DSSA) naik Rp 1.100 ke Rp 12.500, Bank Mega (MEGA) naik Rp 500 ke Rp 3.500, dan Multi Prima (LPIN) naik Rp 475 ke Rp 2.600. [mdr]INILAH.COM

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons